RADIO DI INDONESIA

[Tulisan  Dr. Adrian Peterson, AWR, PA, USA <COPYRIGHT RAGUSA MEDIA GROUP> tahun 2003 dengan judul asli “Eighty Years of Radio in Indonesia] dan dengan ucapan terima kasih saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk blog ini dengan ijinnya. Tulisan ini tidak diperbolehkan untuk direproduksi atau dikutip tanpa ijin khusus dari penulis].

Delapanpuluh tahun radio di Indonesia. Waktu yang cukup lama. Kenyataannya, awal komunikasi wireless di Indonesia jauh lebih lama dari itu, sekitar 90 tahunan. Begini ceritanya.

Di era sebelum awal Perang Dunia 1, dua stasiun pemancar pemantik wireless didirikan oleh Hindia Timur Belanda untuk komunikasi angkatan laut. Masa itu adalah sebelum dipakainya callsign yang dikenal secara internasional, dan salah satu dari stasiun itu, berlokasi di Sabang, mengudara dengan kode Morse dengan callsign yang tidak umum, SAB.

Segera setelah perang usai, telah ada empat stasiun seperti itu di Hindia Timur Belanda, dan semuanya didesain dengan callsign seri PK yang baru, yaitu: PKA Sabang, PKB Weltevreden, PKC Sitoebondo, PKD Koepang.

Kemudian, pemerintah Belanda di Batavia, sekarang dikenal sebagai Jakarta, mengumumkan bahwa sebuah stasiun wireless berukuran besar dengan memakai perlengkapan Telefunken, sedang dibangun di Malabar, dekat Bandoeng. Tanggal pembukaan resmi stasiun itu adalah 5 Mei 1923, tepat 80 tahun yang lalu hari Senin kemarin. Tetapi sebuah hantaman kilat tropis menghancurkan beberapa peralatan wireless dan hari yang baik ditunda sampai perbaikan selesai.

Stasiun wireless raksasa 3.5 megaWatt itu dibangun untuk komunikasi dengan kantor pusat di Holland.  Tetapi sampai di situ, transmitter pemantik wireless tidak lagi dipergunakan, dan tidak lama kemudian transmitter valve atau tabung dibangun di lokasi yang sama di pulau Jawa.

Stasiun brodkasting radio pertama di wilayah Indonesia dibangun di Batavia pertengahan 1925 dengan callsign BRX. Stasiun-stasiun brodkasting lain mulailah bermunculan di seluruh  Hindia Timur Belanda dan banyak di antaranya disatukan di bawah jaringan milik pemerintah – NIROM – yang baru dibentuk di tahun 1934.

Brodkasting shortwave di Hindia Timur Belanda dimulai tahun 1928 sebagai usaha bersama stasiun-stasiun radio lokal yang lebih kecil dengan stasiun-stasiun komunikasi besar. Di Batavia, yang pertama di jalur shortwave adalah stasiun JFC. Stasiun komunikasi utama di Bandoeng memulai program siaran relay di shortwave untuk keperluan para pendengar di seluruh Indonesia, juga di Australia, negara-negara lain di Asia, dan juga di Holland sendiri.

Selama bertahun-tahun, sejumlah besar stasiun bermunculan di jalur shortwave, kebanyakan di jalur shortwave tropis. Stasiun-stasiun ini mengudara dengan callsign seri P dan juga yang lebih baru, seri YD.

Radio Batavia, dengan callsign Bandoeng PLE, menyelenggarakan acara musik mingguan di 15.93 meter, dan callsign transmitter PLE PLW dan PMB ikut serta dalam relay round-the-world yang terkenal di bulan Juni 1930, dan juga dua tahun kemudian. Transmiter-transmiter itu sering mengudara juga sebagai stasiun intermediasi untuk relay siaran-siaran dari London & Holland ke Australia & New Zealand.

Di saat itulah sebuah transmitter besar dibangun di Bandoeng untuk program komunikasi lalu-lintas dan brodkas. Terdaftar 80 kW, walaupun kelihatannya lebih tepat 50 kW seperti sekarang.

Di tahun penentuan 1942, tepatnya tanggal 7 Maret, di akhir siarannya, Radio Batavia Bandoeng terdengar di Australia mengumumkan: “This is Radio Bandoeng closing down. God save the Queen. Goodbye everyone until better times come.” Frekuensi yang dipakai saat itu adalah 15150.

Sebulan kemudian, transmitter yang sama kembali mengudara dengan program diarahkan ke Australia dan New Zealand dengan callsign baru, yaitu JBC dan ABC. Callsign JBC mengindikasikan Japanese Broadcasting Company, dan ABC adalah callsign untuk program clandestine yang mirip Radio Australia.

Di era pasca perang ini, stasiun-stasiun shortwave besar di Hindia Timur Belanda, dan beberapa stasiun yang lebih kecil juga, dikenal sebagai pemberi verifikasi yang baik. Kartu-kartu QSL dari stasiun-stasiun komunikasi biasanya berbentuk kartupos ketikan dalam bahasa Inggris, walaupun kartu yang terkenal di era itu adalah sertifikat NIROM dengan detil komplit, termasuk callsign.

Bagi mereka yang melihat sejauh itu, Indonesia mungkin mengingatkan bahwa tahun ini merupakan tahun ke 80nya dalam wireless internasional dan komunikasi radio.

Iklan

About Ashar

grandfather, husband, brother, father, father in law

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s